Turut Berduka Bencana Tsunami - Indonesia

Main Menu

· Home

Modules
· Downloads
· FAQ
· Members List
· News
· Recommend Us
· Reviews
· Search
· Sections
· Topics
· Top List
· Web Links
· Archives

Partner

ARDHOSTING.COM

Indoto.com

Kasmaji.or.id

Random Quotes


(yaitu hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

-- (QS. 40:52)

Who's Online

We have 6 guests and 0 members online

Welcome Guest, become a member today.

RenunganSuatu pagi Zhi Zhou mendatangi Zun-Nun dan bertanya, "Guru, saya tak
mengerti mengapa guru berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana.
Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amatlah penting,
bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain."


Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu
jarinya, lalu berkata, "Zhi Zhou, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih
dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke
pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu
keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."

"Cobalah dulu anak muda, Siapa tahu kamu berhasil."

Zhi Zhou pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada
pedagang sayur, penjual daging dan ikan. Ternyata, tak seorang pun berani
membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping
perak. Tentu saja, Zhi Zhou tak berani menjualnya dengan harga satu keping
perak.

Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun
berani menawar lebih dari satu keping perak."

Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu
ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik
toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana
ia memberikan penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada
Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata
para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini.
Pedagang emas menawarnya dengan harga sepuluh keping emas.

Rupanya nilai cincin ini sepuluh kali lebih tinggi daripada yang
ditawarkan kepada para pedagang di pasar."

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas
pertanyaanmu tadi. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para
pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun
tidak bagi "pedagang emas".

"Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan
dinilai jika kita mampu melihat hingga ke kedalaman jiwa. Diperlukan
kearifan untuk menjenguknya, dan itu butuh proses. Kita tak bisa
menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat
sekilas.

 

Login

 Username
 Password


 Log in Problems?
 New User? Sign Up!

Related links

· More about Renungan
· News by erwinfa


Most read story in Renungan:
Cincin Emas dan Kearifan

Apabila ada saran yang berkaitan dengan website ini, harap kirim email ke Webmaster
All logos and trademarks in this site are property of their respective owner.
The comments are property of their posters, all the rest © 2002 by www.erwinfahmi.com.